Cerpen

Gadis Simpang Maktal

festival-tari-tradisional-ou15zi-prv
Di ambil dari antarafoto.com.

DI ANTARA kendaraan yang berjejal di perempatan Maktal dan hingar bingar klakson serta caci maki antara pengendara. Perhatianku tersita pada pengendara motor bebek otomatis di depan motorku. Seorang gadis bermata bulat nan teduh, hidung mancung, dan berbibir tipis. Aku dapati semuanya dari sekotak kaca spionnya. Kenapa aku bisa tertarik? Tentu karena matanya, menyiratkan pribadi penuh kasih sayang sekaligus memadamkan nyali siapapun yang hendak berniat jahat padanya. Tipikal mata favoritku!

Aku membututinya lurus menuju Jalan Cimanuk, berbelok kanan ke Masjid Agung, mengitari pasar ke Jalan Ranggalawe. Gadis itu berhenti kemudian masuk ke kedai kopi bercat hitam putih di Jalan Cikuray. Kesempatan bagus, pikirku, untuk melihatnya lebih dekat. Aku kadung penasaran ingin tau keseluruhan wajahnya, juga bagaimana suaranya, dan tentu saja namanya.

Entah kenapa aku gugup, ketika jarak kami hanya sejengkal kaki orang dewasa. Wajahnya tirus nan segar bak sawi baru dipanen dari kaki gunung Papandayan, telinganya normal, rambutnya panjang menghitam, dan tubuhnya sintal. Di tambah suaranya yang lembut tapi tebal. Selaras dengan sorot matanya, suaranya memberi kesan pribadi yang mengayomi. Nyaris sempurna!

Ketika antrean tinggal kami berdua, semampunya aku himpun keberanian untuk berkenalan. Di kepalaku muncul ragam cara memulai obrolan, mulai dari menanyai kopi favoritnya hingga yang paling biasa, mengomentari kemacetan Garut. Tak mau gegabah, bisa-bisa dia risih dan menganggap aku sok asik. Aku pejamkan mata demi meyakinkan diri. Ketika mata terbuka, tersisa aku dan pelayan kedai. “Mau pesan apa, A?” tanyanya. Aku putar pandangan ke belakang, gadis itu sudah siap di atas motornya lantas melaju begitu saja seperti tidak mempedulikan usahaku untuk mengenalnya.

Pelayan kedai selalu mencatat nama pemesan. Dari sana aku tau walau hanya dapat tiga huruf: L-I-A. Sepanjang jalan aku mencari cara agar bisa menemukan satu Lia di antara 126.452 warga Garut. Kalau harus mendatangi Sensus Penduduk terlalu rumit. Aku punya ide lain.

Berbekal tiga huruf, aku menjelajah Facebook, Twitter, dan Instagram. Di Facebook aku tidak menemukannya, mungkin akunnya sudah tidak aktif. Begitu juga Twitter. Aku optimis menemukannya di Instagram, mustahil anak muda hari ini tidak menggunakannya. Ketemu! Tapi dikunci. Setidaknya aku dapat banyak huruf untuk melengkapi namanya. RAHMA NURLIA, lengkapnya. Jempolku langsung menekan tombol persegi biru.

Setiap pagi, siang, sore, dan malam aku habiskan kuota hanya untuk membuka fotonya satu persatu dengan hati-hati, supaya tidak kepencet love. Apalagi untuk setiap foto paling lama. Dari sana aku tau bahwa Lia seorang penari. Jam terbangnya mumpuni. Hanya dengan menari dia pernah ke Malaysia. Kegagumanku bertambah.Yang lebih penting lagi, tidak satupun aku melihat tanda sudah ada yang memilikinya. Fotonya kalau tidak menari, ya swafoto atau berdua dengan teman wanita. Sekalipun berfoto dengan pria, selalu disertai keterangan: sibling. Aman!

Satu ketika dengan sengaja aku membuka insta story nya, Lia baru selesai pentas di Garut Plaza. Dari atribut pakaiannya aku menduga dia penari tradisional, tapi aku tidak tau dari daerah mana tarian itu. Di kepalanya ada bulu-bulu tebal berwarna merah yang menjuntai tinggi, benda itu yang jadi bahan obrolanku. Aku kirim pesan langsung untuknya: Hi, itu bulu apa ya? Kok kelihatannya berat banget. Nggak pegel?. Satu-dua hari menunggu balasan, hari ketiga aku mendapatkan notifikasi darinya. Pesanku hanya berbalas emoticon senyum.

Lama aku tidak menggubrisnya karena kebingungan. Hari ke hari intensitasku mengamati  aktivitasnya di Instagram semakin menjadi. Selain penari ternyata Lia suka membaca, aku tau ketika dia mengepos buku. Lia juga penyuka anak kecil, aku tau dari seringnya dia mengepos vidio bersama kemenakannya. Beberapa kali aku menonton live Instagramnya sedang memasak. Melihat semua itu, hanya satu kesimpulanku: calon istri idaman.

Karena tak sabar ingin membuka obrolan kembali. Secara serampangan aku melayangkan pesan langsung: Hi kakak penari, boleh kenalan nggak?, tulisku. Lebih buruk dari sebelumnya, pesanku hanya dilihat saja. Tapi aku tak bergeming. Puluhan tahun lalu nenek moyangku menghalau Belanda dari tanah Pasundan dengan semangat bergelora. Masa baru menghadapi lawan jenis saja aku keok. Semangat macan kuning terpatri di jiwaku, aku bukan lieve poesjes1.

Satu ketika aku melihat Lia mengepos diri sedang berada di kedai kopi yang sama. Dari keterangan waktunya, baru lima menit yang lalu. Tanpa pikir aku tancap gas menuju ke sana. Sampai lupa menggunakan mantel. Tapi siapa butuh, kasmaran sudah bisa menghangatkan diri manusia yang mengidapnya.

Aku pesan secangkir kopi Cikuray, menyesapnya sedikit sambil memperhatikan Lia dari dalam kedai. Dia sedang cekakak-cekikik dengan sejawat wanitanya di teras kedai. Senyumnya bak manisan pepaya. Ketika hasrat mendekatinya muncul, tanganku basah dan degup jantung menjadi tak beraturan. Perasaan ini lebih kacau ketimbang divonis tidak naik kelas. Semakin aku berjuang keras meyakini diri, semakin banyak waktu terbuang begitu saja. Kopi pun menganggur, dingin dan akhirnya tak aku habiskan. Ujung-ujungnya aku hanya terpaku dan Lia lepas lagi.

Selagi air laut masih asin, pantang untuk aku mengendurkan semangat. Siasat berikutnya, aku membuat akun Instagram palsu. Asal comot foto wanita dari google dan aku beri nama Sari Puspita. Aku beli followers supaya tidak dicurigai, banyak mengepos gambar penari dan kutipan buku demi citra, dan terakhir aku ikuti akun Lia. Mungkin dengan berlakon sebagai sejenis, Lia bisa diajak ngobrol. Nyatanya memang benar. Mulanya aku mengomentari fotonya sedang menari dan berpura-pura kalau aku juga menyukai tarian. Kami sambung obrolan di pesan langsung, untuk mengimbangi obrolan aku membuka google, memindai segala informasi soal tari. Kami membicarakan dunia tari tradisional, tips dan trik memasak, sampai musik. Aku jadi lebih tau banyak tentangnya sekaligus merasa begitu intim. Ingin sekali aku jujur dan kencan ke Puncak Guha bersamanya. Tapi terlalu dini.

Semakin hari, hubunganku dengan Lia kian dekat. Pernah Lia mengajak bertemu, aku berkilah tidak sedang di Garut. Dia memaklumi. Lalu mengajak lagi, aku berkilah sedang ada kerjaan di Bali. Mengajak lagi, aku berkilah sedang sakit. Ketika dia menawarkan diri untuk menjenguk, aku berkilah bahwa penyakit ini menular dan berbahaya. Akhirnya justru Lia yang putus kontak denganku. Lia juga jarang mengepos apapun. Berkali-kali aku tanya kabarnya, tapi pesanku tidak dibaca. Mungkin dia sedang sibuk pentas dan tak sempat main Instagram. Kadang aku mencarinya ke kedai kopi, tapi nihil. Aku jadi menyesali tindakanku kemarin.

Setiap bangun tidur, aku memeriksa apakah Lia membalas pesanku atau paling tidak mengepos sesuatu. Belum ada perubahan. Perasaanku berubah dari rindu menjadi khawatir. Pikiranku sudah macam-macam, jangan-jangan dia sakit keras dan dirawat. Untuk membuktikan dugaanku sendiri, aku melesat ke RSU. Dokter Slamet. Setelah berkeliling dari satu bangsal ke bangsal lainnya, aku tidak menemukan nama Lia berada dalam daftar pasien rawat inap.

Sembari menikmati Es Goyobod di depan Masjid Agung, pikiranku terbang ke segala kemungkinan tentang Lia. Sesekali memeriksa Instagram, barangkali ada aktvitas pada akun Lia. Membuka kotak pesan, pesanku pun belum juga dibacanya. Bodohnya aku tidak pernah sekalipun memberanikan diri meminta nomor teleponnya. Tapi percuma juga, selama aku masih dikenalnya sebagai Sari Puspita. Dan nomor teleponku pun terintegrasi dengan aplikasi chat lainnya. Tapi kan, aku bisa berpura-pura juga. Ah, jadi banyak penyesalan yang muncul dan membikin otak pening saja.

Jempolku masih terus menjelajah lini masa Instagram. Hingga aku terpatri pada sebuah foto. Dari akun Lia. Yang langsung membuat kepalaku mumet seada-adanya. Kerongkonganku seperti disodok bambu. Terpampang foto Lia bersama seorang pria dengan pose mereka yang sama-sama mengangkat jari manis lengkap dengan senyum bangga. Perhatianku tumpah pada cincin yang mengikat di jari manis keduanya. Lebih sesak lagi ketika membaca keterangan foto di bawahnya: Kita berdua tak hanya menjalani cinta, tapi menghidupi2. #menujuhalal #LiaYayanEnggamentday.

Ketika itu juga, setan dalam diriku seperti tak henti-hentinya menuang bensin dalam kobaran api cemburu. Aku mengintai akun Instagram tunangan Lia, mengumpat sejadi-jadinya, menghina paras wajah tunangan Lia yang menurutku tidak lebih rupawan ketimbang aku. Hatiku bertambah panas. Saking kesalnya, aku memblokir akun Lia, baik melalui akun asliku dan akun palsuku.

Sampai berhari-hari api cemburu belum juga padam. Aku kesal tapi belum merasa kalah. Toh, ini hanya perkara siapa yang lebih dulu maju. Pun, Lia masih bertunangan. Belum menikah. Aku masih melihat benderang kemungkinan mendapatkan Lia. Percuma semangat macan kuning terpatri di jiwaku. Hatiku sudah mengeras, tekadku bulat, daya capaiku luas3 untuk mendapatkannya. Aku hanya perlu cara lain lagi.[]

Garut, 18 Februari 2018

[1] Ejekan tentara Belanda untuk Divisi Siliwangi yang berarti kucing-kucing yang manis.

[2] Potongan lirik lagu Efek Rumah Kaca berjudul “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”.

[3] Diadaptasi dari buku Siliwangi dari Masa ke Masa. Di buku tersebut tertulis, “Macan kuning (harimau atau maung) adalah lambang kebesaran Prabu Siliwangi sebagai kiasan kekerasan hati, kebulatan tekad, dan daya capai (seorang prajurit TNI).”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s