Cerpen

Lagu Yang Sama Untuk Dua Kisah Sekaligus

3
Gambar pinjaman dari Shutterstock yang baik hati.

I’ll fight the future for you (maybe), telah menjadi bait lirik favoritnya. Begitu kalimat tersebut menjadi kor pada akhir lagu, pikirannya disangga oleh kenaifan masa remaja, keegoisan, perdebatan tak penting, emosi yang meletup di atas motor, panasnya ranjang kamar, air mata yang melulu terbuang, dan tawa yang sering kali pecah karena hal remeh. Yang terjadi antara dirinya dengan sang kekasih.

Dia tidak pernah merasa terlalu dini untuk mengucapkan potongan lirik tersebut kepada sang kekasih, meski Ujian Nasional saja belum dilaluinya. Namun setiap kali menyimak lagu itu, pandangannya jauh lebih terang menerjang ke depan. Melampaui momentum yang lebih mungkin dan lebih dulu akan dialaminya. Membuat hari-harinya bergelora.

Dia yakin, setiap malam akan berlalu dan menjumpa pagi. Seperti potongan lirik yang lain dalam lagu yang sama, And hope we’ll reach morning, I thought you saw it too.

Tentu tidak mudah untuk menyebut dirinya gegabah atau mendahului khendak Tuhan tentang rencana-rencana masa depan. Percuma! Nilai-nilai moral bahkan agama tidak berlaku untuk remaja yang sedang tertimpa cinta berton-ton.

Bahkan orang tuanya saja hanya menjadi figuran dalam hidupnya yang penuh ambisi saling mengasihi dan mencintai sang kekasih. Semua perhatian tercurah pada sang kekasih. Upaya membahagiakan lebih dulu diniatkan untuk sang kekasih. Pun seandainya saja bisa, nama-nama hari akan digantinya dengan nama sang kekasih, supaya ingatannya terus terjaga.

Dalam usianya yang masih belasan tahun, dia berharap hidup akan selalu berjalan monoton. Supaya dirinya dan sang kekasih bisa terus berdua. Menikmati hari demi hari secara kasmaran terus menerus. Tidak berkurang, tidak juga bertambah. Dia merasa puas pada level cukup.

Dalam cakrawala berpikirnya yang masih sempit namun terlanjur dianggap olehnya sebagai sesuatu yang sudah luas untuk menilai dunia. Dia luput mengetahui bahwa kehidupan adalah hal paling dinamis setiap detik ke detiknya.

Dia adalah jenis manusia yang membuat kemewahan nama Albert Einstein dan Stephen Hawking terdengar miskin.

Namun sayang, sekuatnya tekad dirinya dalam membekukan waktu. Waktu tetaplah waktu, monster paling adikuasa dalam jagat semesta yang paling tidak mungkin ditundukan. Apalagi oleh remaja yang sedang kasmaran.

Beratus hari kemudian, dari semenjak menyimak lagu tersebut untuk pertama kalinya. Entah disadari atau tidak olehnya, kehidupannya dengan sang kekasih mengalami perubahan kecil. Selayaknya tebing beton yang berdiri kokoh menantang ombak di pinggir lautan. Lama-lama mereka terkikis oleh waktu.

Entah tepatnya pada hari yang keberapa ratus, dia mulai menyadari bahwa pelangi telah banyak kehilangan kombinasi warnanya. Sampai satu ketika, hanya tersisa garis hitam melengkung panjang saja.

“Kamu kapan?” tanya suara perempuan dari saluran di seberang sana.

“Mungkin besok atau lusa.”

“Amien. Memang jodohnya sudah ada?”

“Pertanyaanmu seperti orang yang tidak beragama saja.”

Ada suara ketawa terpaksa dari ujung saluran itu. Tawa yang semakin menegaskan penilaiannya pada sang kekasihnya dulu. “Jangan lama-lama. Jangan banyak memilih,” ujar mantan kekasihnya.

“Iya.”

Suara dari seberang saluran itu terus berbicara tanpa tau bahwa lawan bicaranya baru saja menjauhkan telinganya dari lubang suara. Sampai kemudian berubah hening telinga itu baru menempel kembali.

“Tenang. Semua orang punya waktu yang berbeda-beda.” Gantian dirinya yang ambil suara dalam sekali tarikan napas.

Telinganya kembali menjauh, setelah suara perempuan di seberang sana mulai meracau lagi. Telinganya menempel sesaat hening kembali.

“Jaga dirimu. Yang berawal baik belum tentu berakhir baik. Salam untuk Ibu.”

Saluran tersebut berakhir begitu saja. Tanpa dirinya menyempatkan menerima balasan.

Ada jarak sekian ratus hari antara dia dan mantan kekasihnya, tak pernah intens berkomunikasi. Yang membuat dirinya merasa tidak butuh petuah dari orang yang datang dari masa lalu.

I’ll fight the future for you (maybe), masih menjadi potongan lirik favoritnya dalam lagu yang sama. Ketika bait lirik itu masuk menjadi kor pada akhir lagu, tiang-tiang penyangga di masa remajanya telah menjadi puing. Tergantikan oleh penyangga yang lain, yang khusus untuk menopang antara  dirinya sendiri dengan sang waktu. Kehidupan bukan hal yang monoton, ia dinamis.

“Terserahmu saja, Yaa Malik! Aku ikut.”[]

Depok, 01 Mei 2018

**Selamat merayakan May Day, kaum pekerja di manapun. Perbanyak cinta dan tetap bekerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s