Intisari

Zakat Ibarat Menanam Pohon Pisang

ilustrasi-zakat_20150714_135424
Sumber: Google Image yang baik hati.

APABILA MELIHAT POHON PISANG, waktu seakan menarik ingatan saya pada hari-hari yang lalu. Menjatuhkan saya pada dataran kenangan yang berisi kegiatan penuh keringat dan kotor bersama Kakek.

Usia saya masih belasan tahun, belum juga merasakan bangku Sekolah Menengah Atas. Ketika Kakek pada suatu sore yang cerah memberikan saya sebuah cangkul kecil. “Ayo, ikut. Sekali-kali tanganmu perlu kerja kasar,” ujarnya.

Tanpa bertanya, langkah kaki saya membututi langkah Kakek yang besar-besar. Menuju sepetak tanah kosong di samping rumah kami. Kakek dengan cangkul yang besar, yang apabila diberikan pada saya, mustahil saya akan kuat mengangkatnya. Otot-otot Kakek terlihat kencang ketika cangkul tersebut menjuntai ke langit lalu menghantam tanah berulang kali hingga membentuk legok. “Tinggal dikit lagi. Sekarang giliranmu.” Kakek menyerahkan lahan garapannya.

Tangan kecil ini, berkali-kali berusaha melubangi tanah yang bentuknya menyerupai mangkuk bubur ayam. Namun dengan skala yang lebih besar. Keringatpun mengucur dari kening dan ketiak, ketika saya menyadarinya, tubuh saya sudah nyaris kuyup keringat. Tangan dan terutama kaki saya sudah kotor oleh ampas galihan tanah.

Kakek menyuruh saya berhenti mencangkul, kemudian dia memasukan sebuah tunas berukuran selengan orang dewasa ke dalam tanah. Dan menyuruh saya untuk meratakan tanah berlubang tersebut.

Hari-hari berikutnya berlalu begitu saja. Kakek hanya sesekali meminta saya menjenguk lahan bekas garapan kami. Sampai saya menyadari semakin waktu berganti, tunas itu terus bertambah tinggi bahkan nyaris melebihi pagar rumah kami. Saya baru mengetahui yang kami tanam adalah pohon pisang, ketika buah-buahnya bermunculan.

Bentuk buah pisang itu begitu menggoda. Saya tak sabar untuk menikmatinya. Nampaknya enak untuk dimakan bersama susu kental cokelat dan keju parut. Atau hanya digoreng tepung sekalipun.

Belum juga sirna bayangan-bayang kenikmatan menyantap pisang dari benak saya. Kakek malah menyuruh saya untuk memberikan buah pisang itu kepada tetangga sebelah. Saya kesal dengan Kakek, bukan saja keputusannya telah membuyarkan khayalan-khayalan saya. Melainkan saya kesal karena pisang ini tumbuh berkat hasil kerja keras kami. Kami yang berpeluh keringat dan kotor-kotoran demi menanam pohon pisang tersebut. Ketika satu langkah lagi untuk menikmatinya, malah orang lain yang tidak berkontribusi sama sekali yang mendapatkannya.

Saya mengantarkan pisang-pisang itu ke tetangga sebelah dengan wajah masam. Langkah kaki saya pun terasa berat sekali. Bahkan ketika sampai di daun pintu rumahnya, tangan saya enggan untuk mengetuk dan bibir kaku mengucap salam. Namun karena saya juga tidak berdaya di hadapan Kakek, jadilah pintu itu terketuk dan salam keluar dari mulut saya.

Seorang ibu muda bertubuh kurus dengan dua anak balita yang berada dibalik kakinya menyambut saya dengan senyuman. Melihatnya serasa otot-otot saya lemas setelah tegang tak karuan. Saya memberikan pisang tersebut dan lekas pulang dengan wajah yang kembali masam. Saya membatin tidak ingin menegur Kakek. Saya kadung kecewa padanya.

Namun seperti tau apa yang sedang saya pikirkan, Kakek tiba-tiba menghampiri saya dan menjelaskan keputusannya. “Memang di tangan kita, pohon pisang itu tumbuh. Benar itu, kalau kita punya hak untuk menikmatinya. Tapi pisang itu tidak berarti apa-apa, kalau kita yang menikmatinya. Pisang itu akan berarti jika berada di tangan mereka, setidaknya akan membuat mereka tersenyum, karena hari ini ada sesuatu yang bisa mereka makan. Sementara kita, tanpa pisang itu, kita masih bisa tersenyum. Kita punya beras, telur, dan singkong yang siap panen. Atau kita bisa menanam kembali pisang tersebut, lain waktu.”

Meski awalnya sulit untuk menerima, namun ucapan Kakek menahun bersarang di kepala saya. Menjadi semacam pelajaran yang terus saya coba peras intisarinya. Sampai satu titik di hidup saya, mulai mengetahui bahwa apa yang Kakek ajarkan ketika itu, serupa konsep zakat.

Zakat mengandung arti, yakni keberkahan, kesuburan, kesucian dan kebaikan. Kata zakat berasal dari dua kata, yakni zaka (kata kerja untuk masa lalu) dan yazku (kata kerja masa sekarang dan mendatang). Yang berarti bertambahnya jumlah sesuatu atau tumbuhnya tanaman dengan subur. Jika zakat dicermati secara linguistik, maka upaya saya dan Kakek menanam pohon pisang adalah zakat kami.

Apabila ditelaah secara syariat, zakat berarti sejumlah harta (uang atau benda) yang wajib dikeluarkan dari milik seseorang, untuk kepentingan fakir miskin serta anggota masyarakat lainnya yang membutuhkan. Maka, upaya Kakek menyuruh saya memberikan pisang ke tetangga adalah refleksi zakat secara syariat.

Pada  fase selanjutnya saya coba memaknai hakikat zakat sebagai upaya mengosongkan untuk kembali terisi. Dalam arti begini, saya meyakini bahwa Allah Swt. telah menetapkan rezeki bagi masing-masing individu. Masing-masing individu memiliki cawan kosongnya. Ketika individu tersebut berusaha untuk mengisi cawan yang kosong tersebut. Maka Allah Swt. senantiasa membantunya. Sampai ketika cawan tersebut terisi penuh. Langkah paling bijak yang harus ditempuh oleh individu yang bersangkutan ialah mengosongkannya sedikit ataupun secara keseluruhan. Semata-mata agar pertolongan (atau rahmat) Allah Swt. bisa mengisi kembali cawan dari individu tersebut.

Perihal mengosongkan cawan yang saya sebutkan di atas, bisa pula diartikan sebagai upaya membersihkan diri agar terhindar dari sifat tamak.

Sebab dari itu Nabi Saw. dalam riwayat hadisnya selalu menganjurkan bagi siapapun yang memiliki kelebihan harta untuk berzakat. Bahkan dalam Al-Quran zakat disebut tiga puluh dua kali dan menjadi rukun Islam kelima. Menandakan betapa pentingnya zakat bagi kaum muslimin.

Selain memang akan memberikan dampak kebaikan bagi orang lain, zakat akan memberikan kebaikan yang sama untuk pribadi yang mengerjakannya. Seperti yang termaktub dalam QA Al-Nur [24]: 56, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, agar kamu diberi rahmat.”[]

Depok, 24 Mei 2018

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Berawal Dari Zakat, #25thnMembentangKebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa cek info lomba di donasi.dompetdhuafa.org/lombablog

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s