Cerpen

Tidak Ada Azan Magrib Hari Ini dan Seterusnya

26815366_108757793269072_3741424623428011149_n
Ilustrasi. Gambar pinjaman dari Google.

SEBAGAI SEORANG SAHABAT, hal yang paling cukup melegakan ialah ketika melihat sahabatku masih hidup. Hal lain yang lebih dari cukup ialah ketika melihat sahabatku masih dapat tersenyum bahagia. Untuk hal-hal yang lain, seperti bagaimana cara dia berbusana, selera musik, potongan rambut, pemilihan minyak wangi, keyakinan beragama, kaos kaki, ataupun orientasi seksualnya. Aku tidak mau mengurusi. Sebab aku percaya semua orang, berhak memutuskan arah hidupnya, dan semua orang berhak belajar dari pilihannya menjalani hidup. Itulah prinsipku!

Tapi tidak kali ini. Aku gelisah bahkan nyaris marah, melihat sahabatku murung atas apa yang telah dipilihnya.

Nama sahabatku, Didin, dia yang membuatku gelisah dan nyaris marah sekarang. Saking murungnya Didin, asbak rokoknya sudah penuh dengan berbatang-batang rokok. Yang sepertinya sengaja tidak dikosongkannya, sebagai penegas keadaan. Gelas kaca di samping asbak itu, tidak pernah kosong oleh kopi hitam. Jika kopi sudah tandas atau mendingin, selalu saja diganti yang baru dan masih hangat. O satu lagi, rambutnya berminyak. Didin sedang tidak menggunakan minyak rambut. Dia hanya tidak mandi sejak kemarin. Untuk bau rambutnya, sungguh aku maklumi. Tolong, jangan tanya aroma tubuhnya. Kalian bayangkan saja sendiri.

Bukan saja kondisi jasad Didin yang tak terurus. Ruangan yang kami diamipun total berantakan. Baju kotor di pojok sana, terbengkalai. Sampah plastik mie instan meluap di tong sampah, berjubel dengan sampah lainnya. Lantai yang aku injak, berdebu dan pada bagian sisi yang lainnya terasa licin. Jika lantai ini tidak segera dibersihkan, aku jamin reputasinya bisa mengalahkan ubin bengkel. Tembok-temboknya lembab. Belum lagi aroma di dalam sini, pengap bikin ampun. Didin malas membuka jendela-jendelanya. Padahal tulang lengannya masih kuat dan belum rapuh, kecuali hatinya.

Sudah sejak buka puasa pertama, Didin melewatinya seorang diri. Dia yang beli makanan berbuka sendiri, dia yang menyajikannya sendiri, dan dia makan sendiri. Bukan itu yang dia inginkan. Didin punya seseorang, katakanlah kekasih, yang diharapkannya menemaninya berbuka puasa bersama. Tapi kekasihnya memilih buka puasa di rumahnya sendiri.

“Paham aku kondisinya. Setidaknya sehari saja dia menyempatkan diri berbuka di sini. Sehari loh, sehari,” ujar Didin. Kata ‘dia’ tentu merujuk pada kekasihnya. Sapto namanya.

Aku mengerti yang Didin maksudkan. Toh, aku pun akan kesal jika Linda, kekasihku, tidak menyempatkan diri berbuka puasa bersamaku barang sekalipun dengan alasan lebih memilih berbuka di rumah. Namun aku tidak bisa membandingkan antara hubunganku dengan Linda, dengan hubungan yang sedang dijalani Didin dan Sapto. Banyak poin yang berbeda, kecuali urusan kasmaran dan patah hati saja yang sama.

Tapi bukan karena Sapto yang tidak pernah sekalipun berbuka puasa bersama Didin, yang membuat aku gelisah dan nyaris marah. Dalam konteks tersebut, aku tidak bisa ujug-ujug marah pada Sapto yang lebih memilih berbuka puasa di rumahnya, ketimbang di kontrakan kekasihnya. Kalau aku berada di posisi Sapto mungkin akan melakukan hal yang sama. Memilih berbuka puasa di rumah bersama istri dan anak-anakku.

Kegelisahanku yang mana nyaris berubah marah pada Didin, dikarenakan pilihannya menjalin asmara. Tidak masalah dia mau berkencan dengan sesama jenis. Aku tidak peduli. Bukan juga karena pada akhirnya Didin melabuhkan cintanya di pinggir dermaga Sapto yang jelas-jelas sudah berkeluarga. Untuk itu aku juga tidak peduli. Aku hanya tidak bisa terima pada sikapnya yang tak sadar konsekuensi atas apa yang telah dipilihnya.

“Sudahlah, Din. Jangan lagi bersedih. Toh, dari awal kamu sudah tau, kalau pada akhirnya harus berbagi waktu dengan istrinya itu, kan,” ujarku.

“Paham. Setidaknya sekali saja, sekali. Aku nggak minta setiap hari, kok!”

“Bulan puasa memang waktunya kumpul bersama keluarga, Din.”

“Jadi, maksudmu, aku ini bukan bagian darinya?”

Mulutku mendadak kelu mendapati mimik wajahnya berubah, seperti seorang istri yang masakannya dikomentari tidak enak oleh suaminya. Jadilah aku hanya membatin, kamu cuma pacarnya.

“Kemarin-kemarin kalian juga sering ketemu, kan. Sekarang gantian deh,” ujarku kemudian.

“Ini bulan puasa. Aku hanya minta sekali saja buka bareng. Sekali. Serius, hanya sekali. Masa sebulan penuh buka sendirian terus. Malam takbiran nanti, pasti dia mengajak anak-anaknya ke pasar kaget. Lebaran sudah sibuk keliling rumah saudaranya. Ini loh aku, cuma minta sehari buka bareng aja. Masa nggak bisa sih.”

“Ngerti, Din. Aku ngerti, kok.”

“Kamu nggak paham.”

“Eh siapa bilang. Aku dan Linda juga pernah nggak ketemu sebulan penuh. Dia sibuk sama kerjaannya. Aku juga begitu. Tapi kami saling ngerti.”

“Jangan disamakan. Aku dan Sapto beda.”

“Jadi mau kamu bagaimana?”

“Cuma mau dia menemaniku sehari saja buka puasa di sini. Atau di mana aja deh.”

“Kabarin dia dong. Bilang apa yang kamu bilang tadi.”

“Nggak perlu disuruh. Sudah aku lakukan. Cuman pesanku centang satu. Nomornya kayak nggak aktif.”

“Awas kamu, kalau sampai punya pikiran untuk mendatangi rumahnya.”

“Memang itu yang aku pikirkan dari tadi.”

Bukan cuma gertak sambal. Didin benar-benar menyambangi rumah Sapto. Aku tau setelahnya, langsung darinya yang menceritakan. Sejujurnya, aku tidak setuju dengan keputusannya tersebut. Awalnya. Terlalu ekstrim sekali. Apalagi sekarang tren “pelakor” lagi naik daun. Amit-amit deh, kalau Didin mendadak viral di sosial media.

Jangan tanya, kenapa aku tidak melarangnya saja jika memang tidak mengkhendaki keputusannya. Itu mustahil. Pantang buatku merusak prinsip sendiri. Biar dia belajar lagi dari apa yang telah dipilihnya, asal tau konsekuensi.

“Terus, ngapain aja di sana?” tanyaku, sesaat dia memberitahuku bahwa kemarin sudah ke rumah Sapto.

“Aku ngobrol dengan istrinya dan main sama anak-anaknya.”

“Gila! Benar-benar gila! Segila-gilanya orang yang gila!”

Reaksiku masih belum berubah sampai dia melanjutkan ceritanya. Yang kemudian obrolan menjadi didominasi olehnya sendiri, aku lebih banyak menyimak sembari mengkerutkan dahi dan memicingkan mata.

Jadi, Didin ke rumah Sapto dengan mengaku sebagai bawahan Sapto di kantor. Ketika mengetuk pintu rumah itu, Didin langsung disambut oleh istri Sapto. Didin beralasan tujuan kedatangannya untuk mengambil berkas-berkas yang mesti dipelajarinya. Istri Sapto mempersilakannya masuk. Kebetulan sekali Saptonya sendiri sedang tidak ada di rumah. Aku bilang kebetulan, karena bakal menjadi rumit situasinya bagi Sapto jika saja dia ada. Sapto pasti rikuh dibuat Didin. Kemungkinan istrinya jadi bertanyatanya pun kian besar. Sekakukakunya relasi atasan dan bawahan, lebih kaku lagi sepasang kekasih yang sedang bermasalah, jika bertemu muka.

Menunggulah Didin di ruang tamu keluarga tersebut. Kedua anak Sapto sedang main tak jauh dari mereka. Setelah berbasa-basi soal pekerjaan yang notabene tidak pernah ada dan terjadi, Didin mulai menyelipkan pertanyaan tentang Sapto yang sifatnya sangat personal.

“Ternyata benar, sejak awal puasa, dia tidak pernah absen buka puasa di rumah itu,” ujar Didin, menerangkan kembali informasi yang berhasil dikoreknya. “Mereka juga rutin salat isya berjamaah. Aku baru tau Sapto bisa mengaji.”

“Istrinya cantik dan lembut sekali suaranya. Kedua anaknya lucu-lucu, lebih lucu dari fotonya. Tingkah mereka juga bikin gemas,” lanjutnya.

Didin mendapatkan fakta baru soal kekasihnya. Dia merasa senang, tapi dilain sisi, hatinya terasa nyeri karena harus tau hal itu dari orang lain, terlebih lagi dari istri kekasihnya sendiri. Membuat duduknya menjadi tak nyaman lagi. Didin mengaku mendadak limbung mendengar istri Sapto bicara. Sehingga niatan untuk menunggu Sapto pulang, urung dilakukannya.

“Sapto hidupnya kumplit betul. Ada keluarganya dan aku yang bisa melengkapinya. Tapi aku? Aku timpang. Tanpa Sapto nggak akan bisa lengkap. Aku nggak punya tempat lain lagi selain dia.”

Berangsur-angsur mimik wajah Didin berubah, ada gairah yang tak lagi bergelora nampak darinya. Aku sendiri merasa lega, karena Didin tidak ekstrim, tidak seperti dugaanku sebelumnya. Tapi, aku juga tidak senang melihatnya kembali bermurung durja.

“Wanita itu beruntung. Ingin sekali aku menjadi dia,” pungkas Didin. Sekaligus membuat emosiku memuncak. Hal ini yang paling aku tidak bisa terima, ketika seseorang gagal menyikapi konsekuensi terhadap pilihannya sendiri, kemudian menjadi mengharapkan hal lain yang tidak dia punya atau rasakan. Seolah hidupnya sudah di titik nadir yang tidak bisa diotak-atik lagi.

Karena aku takut akan menceramahinya jika berlama-lama berada di dekatnya. Lagi pula waktunya tidak tepat, andai aku tiba-tiba mengutarakan opiniku. Aku putuskan untuk pulang, dengan alasan ada kerjaan mendadak.

“Sedih boleh, lama-lama jangan,” pesanku padanya sebelum menjauhi pintu kontrakannya. “Ngapain kek.”

Sejak pertemuan itu, kami tidak pernah saling bertemu atau berkirim pesan. Aku merasa lebih baik seperti ini dulu, menunggu sampai emosiku mereda. Berharap saja Didin punya kegiatan baru yang bisa mengubah emosinya menjadi lebih baik dan membawa pikirannya jauh lebih positif. Atau tidak, semoga saja Sapto datang ke kontrakannya dan menemaninya berbuka puasa. Meski hanya sekali, seperti pinta Didin, pasti itu akan membuat sahabatku keluar dari lubang kemurungannya.

Namun kemarin, Didin menyempatkan ke kontrakanku. Ketika itu sore hari dan aku sedang mempersiapkan buka puasa. Didin datang dengan menenteng plastik kresek hitam, sebelum dia beri tahu isinya, aku tebak itu makanan untuknya berbuka. Kami membahas hal-hal yang remeh, mulai dari gosip-gosip di sosial media sampai kemarin berbuka dengan apa. Pokoknya aku berusaha mungkin mencegah obrolan ke arah hubungannya. Aku coba berpikir semuanya telah membaik saja. Toh, aku lihat Didin sudah lebih lepas, semringah, dan langkah kakinya ringan.

Begitu Didin pamit pulang, aku tak tahan lagi ingin bertanya soal Sapto. Hal yang aku sesali sekaligus tidak kemudian. Aman terkendali, jawab Didin dengan riang. Aku menghela napas, baguslah kalau begitu, berarti semuanya sudah teratasi. Asumsiku benar.

Keesokannya aku yang gantian berkunjung ke kontrakannya. Lantainya sudah tidak lagi berdebu dan licin. Sudah tidak layak disandingkan dengan ubin bengkel. Reputasinya sekarang menyerupai lantai rumah sakit. Wangi karbol. Asbak rokoknya sudah bersih, hanya ada sedikit batang rokok di dalamnya. Baju kotornya sudah tidak lagi menumpuk dan sampah-sampahnya tersimpan rapi di dalam tempatnya. Semuanya telah berubah, menjadi bersih. Tak terkecuali tembok-temboknya yang mengalami perubahan cukup drastis. Seluas mataku menyisir ruangan kontrakan ini, aku mendapati panel spons di mana-mana. Menempel dan menutup keseluruhan tembok. Tertata dan rapi. Setelah aku pertegas, ada lapisan karpet yang melandasi panel tersebut. Dan jendela-jendelanya pun dipampat. Seketika aku baru menyadari, sedari tadi tidak mendengar suara apa-apa dari luar. Hanya ada suara aku, Didin, jam dinding yang berdetak, gelas kaca yang kami letakan di atas meja. Ruangan itu menjadi kedap suara seperti studio musik.

Tidak, ruangan ini bukan menyerupai studio musik. Ruang ini lebih mirip ruang isolasi. Sungguh aku merasa aneh berada di sini. Bahkan merasa asing ketika menatap Didin. Sekaligus sedih. Tapi aku bingung harus melakukan apa padanya. Entahlah. Setidaknya dia masih hidup, itu cukup melegakan. Dan, tunggu dulu, Didin nampaknya menikmati betul kondisinya sekarang. Baguslah, dia berbahagia pada pilihannya kali ini.

“Semuanya aman terkendali. Tidak ada lagi azan magrib. Tidak perlu lagi buka puasa bareng,” tukas Didin, seperti prajurit perang yang selesai menyelesaikan misi.[]

Depok, 28 Mei 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s