Cerpen

Hukuman Yang Tepat Untuk Penderita Cacar

bbbb
Ilustrasi buatan sendiri. (C) tanpatitikblog, 2018.

SEMUA MATA TERTUJU pada Bontar. Tegang. Orang dewasa yang membawa anak kecil, menutup mata anaknya, seakan sedang terjadi adegan asusila di muka umum. Orang dewasa tanpa anak kecil, memilih berjarak, cukup jauh. Tidak ada yang sudi mendekat. Bahkan mereka kompak  menutup hidung masing-masing.

“Itu bisa menular dari udara,” ujar salah satu orang dewasa tanpa anak kecil.

“Usir dia!” yang lain menyahut. Tapi tidak ada satupun dari kerumunan itu yang menggubrisnya. Jangankan mengusir, mendekat saja mereka takut.

Yang berani mendekat hanyalah kawanan anak kecil tanpa orang dewasa yang sedang asyik bermain. Mereka tidak takut. Tidak juga jijik. Mereka hanya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Bontar.

“Kulitmu bergelembung.” ujar salah satu dari kawanan anak kecil.

“Ada biji semangka di kulitnya.” sambung yang lain.

“Bukan. Itu kacang.”

“Mungkin! Dia dikutuk Tuhan.”

Semua ini terjadi begitu saja, ketika matanya terbuka di pagi hari. Masih tampak biasa seperti hari yang telah lewat. Yang beda hanya ketika Bontar mendapati ada banyak gelembung kemerahan di sekujur badan. Lehernya serasa pegal. Dari dalam tubuhnya seperti ada yang sedang merebus mi instan. Dan persendiannya serasa ingin copot. Dia tidak berubah menjadi monster. Bukan dikutuk Tuhan juga. Bontar hanya terkena cacar. Penyakit yang serupa kematian, siapa saja akan mendapat bagiannya sesuai dengan waktunya.

Cacar tidak menambah penderitaannya sedikitpun. Tak ada perlakuan khusus juga, cacar sama saja dengan migrain atau flu yang biasa dialaminya. Bontar tetap memulung. Pandangan sinis, jijik, bahkan ocehan kasar padanya, tidak juga menahan kakinya di dalam kontrakan dan libur memulung. Dengan atau tanpa cacar, hidup ialah pergulatan mengisi perut. Bontar lebih mementingkan memungut botol plastik di jalan ataupun tong sampah yang dilewatinya. Tanpa itu, maka tidak ada makanan dan cicilan kontrakan.

Daripada dirinya membalas semua perbuatan orang-orang. Meski dalam hati kecilnya terbesit keinginan. Bontar memilih bergegas ke lapak Cak Din, menyetor botol plastik hasil mulungnya. Lalu lekas pulang ke kontrakan, istirahat, sembari menyesap kopi, dan mendinginkan suhu tubuhnya yang mulai panas.

Riuh di lapak pengepulan barang bekas Cak Din, seketika sepi dengan hadirnya Bontar di depan gerbang. Para anak buah Cak Din, sembunyi di balik tumpukan-tumpukan karton bekas yang menggunung. Cak Din sendiri, berlindung di balik mobil baknya. Bontar serupa kombatan yang datang untuk memberangus musuh.

“Timbang saja sendiri,” teriak Cak Din.

Bontar terheran tapi maklum. Ditimbang saja botol plastik yang dibawanya dalam karung.

“Tiga kilo pas.” Bontar menjelaskan berat timbangannya.

“Ambil ini. Kalau lebih bawa saja. Lain kali saja dikembalikan,” tukas Cak Din melempar sejumlah uang ke tanah.

“Terima kasih, Cak.” Bontar melangkah ke gerbang.

“Belikan salep,” sambung Cak Din.

Bontar menyimak sebentar lalu melanjutkan langkahnya, menjauhi gerbang.

Tiba di kontrakan, Bontar merenungi kejadian-kejadian yang dialaminya setelah menderita cacar. Dia tersenyum sendiri, melihat kenyataan yang janggal ini. Betapa semua orang sebegitu takutnya dengan cacar. Ya, walaupun dia sendiri tau rasanya tidur dengan kulit penuh gelembung air itu tidak nikmat. Tapi dari kejadian itu, timbul kebanggaan. Bontar merasa dispesialkan oleh Tuhan, karena diberi tanggung jawab mulia, yang tidak semua orang menginginkannya. Sementara aku ingin saja nggak, malah dapat, Bontar membatin sembari tersenyum.

Cacar benar-benar membuat dirinya terasing. Beruntungnya Bontar tidak mengerti definisi terasing dan rasanya kesepian. Sejak awal hidupnya sudah akrab dengan dua hal tersebut. Dia tinggal seorang diri di kontrakan kecil, dengan kamar mandi di luar, di tengah kota besar, tanpa sanak famili. Entah kemana keluarganya. Tak sekalipun dia merasa gelisah hidup seorang diri, sebab hidup pada akhirnya akan serba sendiri-sendiri, menurutnya. Bahkan dia merasa cukup beruntung sejak dini dilatih menyendiri. Banyak orang yang telah dijumpainya, justru takut pada kondisi sendiri dan sepi. Hingga akhirnya mencari kesibukan, meski tidak menghasilkan apa-apa, kesendiriannya tak pernah juga teratasi, hidupnya malah jauh lebih murung. Ada pula, sebagian lain yang ditemuinya, gagal menyikapi kesendiriannya dan memutuskan untuk bunuh diri.

Malam itu, untuk pertama kalinya Bontar merasakan penderitaan cacar. Gelembung-gelembung itu seketika menyebabkan rasa gatal yang teramat. Tangannya menggaruk, satu-dua gelembung pecah, iritasi, dan menjadi koreng. Hari-hari esoknya, gelembung yang lain muncul di tempat yang tak jauh dari letak gelembung yang pecah. Terus begitu. Rasa gatalnya kian meradang. Setiap malam adalah medan juang menahan hasrat menggaruk. Bontar membungkus kedua telapak tangannya dengan kaos kaki. Namun gagal, dia masih juga menggaruk dan timbullah koreng baru. Sampai satu waktu, dia tertidur dengan tangan yang diikatkannya sendiri pada ujung-ujung tempat tidur. Persis tawanan perang.

Merasa sudah tidak kuat, Bontar teringat ucapan terakhir Cak Din, beli salep. Dengan sisa uang yang dimilikinya, Bontar menuju Toko Obat Dahlia di ujung gang. Baru langkah kakinya menginjak pintu toko, pramuniaga itu tunggang langgang ke dalam.

“Cuma mau beli salep,” teriak Bontar. “Untuk cacar air.”

Terdengar suara gesekan dari dalam. “Cari saja sendiri. Uangnya taruh di atas etalase.”

Bontar pun melayani dirinya sendiri. Setelah mencari-cari, membaca khasiat salep satu persatu. Dia dapatkan yang diinginkan.

“Uangnya pakai kembalian, nggak?” teriak pramuniaga itu.

“Pas.” timpal Bontar. “Di etalase yah. Terima kasih.”

Salep itu terbukti bisa meredakan gatal pada gelembung-gelembung Bontar. Malam itu terlewati dengan tidur yang nyenyak. Sayangnya karena tidak cukup sekali pakai. Perlu beberapa kali pengolesan. Sementara salep itu hanya berisi sedikit sekali. Sekalai pakai, langsung habis. Itupun belum sekujur badan yang diolesi. Bontar tidak bisa setiap hari menyisikan uangnya untuk membeli salep. Sama saja memangkas jatah makannya. Malam-malamnya pun menjadi menderita lagi. Bontar kembali tertidur dengan menahan gatal dan tangan terikat di ujung tempat tidur.

Berikutnya, setelah mendapat uang dari Cak Din. Bontar putar otak, mencari cara untuk bisa mendapatkan salep tanpa mengurangi jatah makan hariannya.

Bontar kembali ke Toko Obat Dahlia. Dia mulai aneh dengan pramuniaga itu. Ada penjual obat yang malah takut sama orang yang hendak membeli obat. Buat apa dia jual obat kalau gitu?

Seperti sebelumnya, pramuniaga itu lari ke dalam ketika melihat sosok Bontar mendekat ke arah tokonya. “Beli salep lagi?” teriak pramuniaga itu.

“Iya.”

“Taruh di tempat biasa yaa.”

“Siap.”

Tidak, Bontar tidak meninggalkan uang sepeserpun. Bahkan dia mengambil salep lebih banyak dari yang dibutuhkannya. Supaya tidak dua kali kerjaan, pikirnya.

Sesampainya di kontrakan, salep-salep itu digeletakannya begitu saja di atas kasurnya. Dia malah sibuk memikirkan kejadian barusan. Kekonyolan baru buatnya. Sekaligus hal yang diam-diam mulai dinikmati Bontar. Bukannya mengolesi gelembung cacar airnya dengan salep, Bontar malah pergi keluar. Dia masuk ke kedai mie ayam, membuat semua orang histeris dan berhamburan keluar. Jadilah dia makan mie ayam gratis. Saking aji mumpungnya, tiga mangkok tandas dalam sekejap. Perutnya membulat, kenyang. Membuat kakinya sulit bergerak. Tapi Bontar senang. Kapan lagi dia bisa begini.

Tujuan berikutnya, Bontar sengaja mendatangi penjual Es Kepal Milo. Ada remaja yang mengantre, buyar seketika. Pedagangnya pun entah lari ke arah mana. Tak urus. Bontar menyiapkan esnya sendiri. Nikmat betul, sendok demi sendok dilahapnya.

Perutnya semakin padat, tak sangggup lagi Bontar melanjut perjalanan. Toh, dia juga bingung mau ke mana lagi. Sambil mencari tujuan, Bontar istirahat sejenak di pinggir jalan. Dan memutuskan pulang ke kontrakan.

Setiap kali Bontar bangun di pagi hari, dia seperti memiliki energi berlebih. Wajahnya semringah. Senyumnya sering menyeringai. Pikirannya meliar. Tak lagi bergegas menyentuh ganco dan karung. Barangkali memulung sudah raib dalam ingatannya.

Tanpa mandi, Bontar keluar rumah, menuju tukang nasi uduk. Sekali berdeham, semua orang berpencar. Bontar sarapan nasi uduk gratis. Hal yang sama dilakukannya pada tukang seblak, bihun gulung, es podeng, dan sosis bakar. Hanya sekali deham saja. Bontar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Membuat namanya menjadi buah bibir orang sekota.

Bontar juga sudah melupakan salep-salepnya yang masih perawan. Dia memang tidak pernah menderita betul karena cacar, kecuali jika gatalnya tiba. Tapi kini kebalikannya, Bontar merasa bersyukur betul terkena cacar. Bahkan rasa gatalnya sampai tak terasa. Dia menikmati kondisinya, iya jelaslah, bisa makan dan minum gratis. Siapa juga yang tidak mau hidup begitu.

Setelah jenuh mendatangi warung makan dan penjual minuman, Bontar mulai mendata orang-orang yang pernah merasa jijik dengan cacarnya. Cak Din menjadi target paling awal. Dengan langkah yang gagah, Bontar menerjang gerbang seng lapak Cak Din. Tanpa salam. Hanya berdeham. Semua anak buah Cak Din bersembunyi di balik tumpukan karton. Cak Din lari ke dalam kantornya yang terbuat dari susunan triplek.

“Cak,” teriak Bontar. “Di mana, Cak? Aku mau mengembalikan sisa uangmu.”

“Le-letakan saja di situ,” sahut Cak Din gemetar.

“Di situ di mana, Cak?”

“Di manapun.”

Yowes, aku masukan ke kantongmu saja.”

“Jangan. Jangan mendekat.”

“Tak perlu sungkan begitu, Cak.”

“Sungkan palamu. Aku geli.”

Bontar tertawa. “Yasudah. Aku menumpang tidur di sini yah, Cak. Sehari satu malam saja.”

Tidak menunggu izin, Bontar langsung memposisikan tubuhnya di salah satu dipan. Hitungan detik, dia sudah lenyap ke alam mimpi. Sementara Cak Din dan anak buahnya kaku di tempat persembunyiannya. Mereka seperti kelompok kecoa toilet, yang dikepung kapur barus.

Bontar semakin menikmati permainannya, semakin menggemari ekspresi jijik orang-orang yang melihatnya. Semakin tak terkendali juga tingkah lakunya. Entah sudah berapa banyak tongkrongan anak muda yang bubar karena kehadiran sengajanya. Para hansip mangkir berjaga, karena takut tiba-tiba disergap Bontar. Rumah-rumah warga selalu terkunci sepanjang hari, jaga-jaga agar Bontar tidak nyelonong masuk. Lapak Cak Din dipasangi kawat berduri. Ruas jalan menjadi sepi, tidak peduli mau pagi, siang, ataupun malam. Bontar menjadi momok.

Enak juga ternyata cacar, apa ini inayah Tuhan untuk mengentas kemiskinanku? Bisa saja, Bontan membatin sambil berjalan lenggang di tengah ruas jalan yang melompong kosong. Semoga sembuhnya masih lama.

Langkah Bontar tertahan di atas aspal, matanya menerjang jauh ke depan. Ada satu mobil panser yang menghadangnya dan menutup nyaris keseluruhan ruas jalan. Ketika dia menyadari, tepat di belakangnya dengan jarak yang kurang lebih sama, satu mobil panser lagi menghadang dan nyaris menutup ruas jalan. Bontar terkepung. Munculah seseorang berbaju steril dari mobil panser depan, dengan berbicara menggunakan toa dari kejauhan.

“Menyerahlah, Bontar! Kamu skak mat,” ujar orang berbaju steril.

Bontar menerawang suara itu, tak asing di telinganya. “Kau si Tukang Obat itu yah?”

“Ya. Menyerahlah. Cukup menebar teror.”

Bontar bersila di tengah jalan. Pandangannya tak lepas memperhatikan pramuniaga Toko Obat Dahlia yang kini berpakaian steril. Tapi pikirannya menerabas jauh. Membayangkan kemungkinan dirinya akan tertangkap lalu dijebloskan ke penjara. Ah, mana mungkin. Pun jika aku di penjara. Satu penjara pasti geger. Mana ada yang sudi terjangkit cacar. Cuma aku yang berani. Cuma aku. Aku yang spesial di hadapan Tuhan. Minta saja belum, sudah diberi.

“Silakan tangkap aku. Jebloskan ke penjara. Maju sini.” Bontar memprovokasi. Aku mau tau, seberani apa mereka.

Dalam hitungan detik, pasukan elit satuan khusus dari pihak keamanan keluar dari dua buah mobil panser, lengkap dengan baju steril mereka. Bontar dibopong ke mobil, dijejal ke dalam kotak isolasi kedap suara.

Selama perjalanan itu, Bontar hanya terkekeh-kekeh. Dia tak sabar ingin segera tiba dan membuat kegaduhan serupa di penjara. Pasti lebih seru.

Mobil yang mengangkutnya terasa berhenti pada suatu tempat. Degup jantung Bontar kian terpacu. Sungguh dia tak sabar. Betul-betul ingin menikmati wajah jijik para tahanan sekaligus sipir. Sebelum di keluarkan dari mobil, matanya ditutup oleh topeng kedap cahaya. Semuanya menjadi hitam legam. Tangannya diborgol dan kakinya di paksa berjalan sesuai arahan orang yang memboyongnya.

Begitu penutup wajahnya terbuka, Bontar tersontak, terhampar kolam air di depannya. “Mana penjaranya?”

“Penjara gundulmu.” ujar salah seorang yang tak dikenalinya, yang sedari tadi mengarahkan langkahnya.

Tanpa aba-aba Bontar diceburkan ke kolam air. “Tempatmu di kolam air daun sirih.”

Pupus sudah angan-angan Bontar berbuat gaduh di penjara. Dirinya malah diasingkan di sebuah tempat, menjalani pemulihan. Setiap pagi hari, berendam di kolam air daun sirih. Siangnya diinfus air kelapa hijau, dan setelah makan rutin mengkonsumsi acyclovir. Begitu terus, sampai cacarnya berangsur-angsur sembuh.

“Jahanam! Lihat saja, aku bakal cacar lagi nanti.”

Sayangnya Bontar lupa. Cacar serupa kematian, satu manusia hanya mendapatkan satu kesempatan. O, jangan hitung yang mati suri. Itu lain soal.[]

Depok, 04 Juni 2018

p.s. perbanyaklah minum air kelapa hijau dan sempatkanlah mandi air daun sirih. konon, cacar bisa lekas sembuh. itu kata orang-orang pada saya. saya mengamini. terima kasih Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s