Cerpen

Yang Perlu Diketahui Dari Pembunuh Pemula

Aku menunggunya bangun tidur. Satu kaleng soda menjadi ukuran kesabaranku.

Cuaca Jakarta sebetulnya tidak cocok untuk dipadukan dengan soda, panasnya bisa membuat tubuhku rusak. Lalu kualitas udaranya yang tak kunjung membaik, bisa membantu kerusakan tubuhku lebih cepat. Klop!

Aku bisa mati hanya karena menunggu seseorang bangun tidur.

Tapi tidak ada ukuran kesabaran yang sebaik soda, minuman yang aku benci. Dengan meminum soda, aku memiliki waktu menunggu yang relatif lebih lama dan kesabaran lebih banyak. Jika aku meminum es limun, sudah pasti seseorang yang sedang tertidur itu akan jauh lebih cepat bangun.

Kenapa aku tidak membangunkan saja? Kenapa harus pakai menunggu segala?

Tidak. Itu tidak etis.

Bagiku, membangunkan orang dari tidurnya adalah kejahatan. Tetapi tidak membangunkannya dan membuat semua rencanaku berantakan itu juga kejahatan.

Aku sudah kadung janji, bertemu pembunuh bayaran sekitar 2 jam lagi. Sementara aku butuh waktu untuk menerobos macetnya Jakarta. Lalu lintas ibu kota ini menyebalkan, dan aku menjadi turut penyumbang hal menyebalkan itu.

Aku tak percaya transportasi publik. Aku lebih memilih mini busku sendiri, tapi aku tak sudi berbagi dengan siapapun. Aku biarkan 25 bangku kosong begitu saja.

Minuman sodaku nyaris tandas setengah kaleng. Ia belum juga bangun. Malah makin giat mendengkur.

Seseorang lainnya mengirimkan pesan WhatsApp padaku. Ia pacarku. Ia protes kenapa aku lupa membayarkan paket premium Spotifynya. Aku jawab, uangnya aku belikan kebab ayam karena aku ingin sekali. Ia tak terima. Lalu kami berdebat. Selanjutnya biarlah rahasia.

Lalu telfonku ikutan berdering. Pembunuhan bayaran yang menghubungiku. Ia tanya apakah pertemuannya bisa dipercepat. Ia harus pergi beli telur untuk kakak iparnya. Aku jawab, mungkin bisa dan aku minta ia menunggu setengah kaleng soda lagi. Ia tak paham. Nadanya meninggi. Selanjutnya biarlah rahasia.

Aku meneguk sodaku perlahan. Bukan karena sebuah kesengajaan. Aku tak bisa minum soda cepat. Lagipula aku membencinya. Soda itu tajam seperti pisau, dan sudah selayaknya dilarang pemerintah. Ganti dengan bir saja.

Pacarku kembali mengirim pesan. Kami berdebat. Pembunuh bayaran itu menelfon lagi. Kami juga berdebat.

Aku merasa menjadi manusia tersial hari ini. Memulai aktivitas dengan segala hal yang aku benci.

Pertama, aku benci menunggu. Kedua, aku benci minum soda. Ketiga, aku benci pacarku tak paham bahwa kebab lebih substansial daripada Spotify. Keempat, aku benci berdebat dengan pembunuh bayaran. Kelima, aku benci semua yang aku benci terjadi bersamaan.

Aku perlu tenang. Aku coba menghela nafas dalam. Lalu membakar sebatang rokok. Duduk di samping seseorang yang masih tertidur. Menatap layar gawai pintarku, pacarku masih memberondong pertanyaannya.

Aku sampaikan pada pacarku, nanti aku jelaskan semuanya secara langsung. Sulit membuatnya memahami aku harus responsif dalam situasi seperti ini. Biarlah, nanti aku temui saja.

Lagu “100 Degrees” milik Rich Brian berdentum. Aku biarkan lagu itu berputar 5x, bahkan aku mau lebih.

Aku teguk sodaku, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Kesabaranku mulai menipis. Inilah yang dirasakan pacarku dan pembunuh bayaran itu rupanya. Menunggu itu membosankan.

Pesan singkat dari pacarku dan dering telfon dari pembunuh bayaran menjadi penyebab daya baterai gawaiku berkurang cepat.

Aku teguk sodaku lebih cepat lagi. Lebih cepat lagi dari sebelumnya. Satu tegukan, dan kaleng sodaku kosong.

Aku balas pesan pacarku, aku katakan padanya dalam waktu 30 menit lagi aku akan segera tiba menemuinya. Lalu aku angkat telfon dari pembunuh bayaran itu. Kami bicara singkat. Aku mengusulkan sesuatu dan ia menyepakati.

Aku minta pertemuan itu terjadi di rumah ini saja. Ada perubahan rencana sedikit.

Ia tiba lebih cepat dari perkiraanku. Hanya pembunuh bayaran yang terbebas dari kemacetan Jakarta. Bagaimana bisa? Ia tak mau menjelaskannya padaku. Katanya itu rahasia seorang pembunuh bayaran. Baiklah.

“Mana telur yang dijanjikan itu?” tanyanya. “30 butir telur ayam kampung. 3 telur Bebek. Tanpa terkecuali.”

Aku memberikan semua yang ia minta. Sekaligus tambahan 2 telur ayam kampung.

“Mana orangnya?” tanyanya setelah mendapatkan yang ia butuhkan.

Aku menunjuk dengan dagu, seseorang yang sedang tertidur itu. Pembunuh bayaran itu lekas bergegas.

“Kalau sudah selesai. Jangan lupa bersihkan seperti semula. Letakan kunci rumahku di bawah keset, jika kau pergi,” pesanku padanya.

Aku harus bergegas menemui pacarku. Waktuku tersisa sedikit. Sementara pacarku tidak cukup ditenangkan dengan “aku jalan” saja.

“Oh ya, soal yang kemarin. Kita selesaikan nanti saja,” pesan terakhirku pada pembunuh bayaran itu.

Aku melesat menemui pacarku yang maha tak sabar. Selebihnya bukan (belum) menjadi urusanku. Ciao! []

Depok, 18 Agustus 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s