Intisari

Di Tengah Kopi, Buku dan Kantuk

Dia memesan secangkir kopi Aceh Gayo, yang belum pernah diicipnya. Ditunggu sampai suhu panasnya menurun. Caranya dengan beralih membaca buku yang baru dibeli dari kedai buku di Blok M. Di depannya, Anda sudah dulu masyuk menyelami kalimat dari buku yang dibawanya (Anda bernazar menyelesaikan buku setebal 200 halaman itu sekarang). Sampul buku itu lumayan masih…… Continue reading Di Tengah Kopi, Buku dan Kantuk

Esai

Menikmati Kuliner Sembari Menyelami Sejarah

Sepasang penari berlenggak-lenggok di bawah iringan musik gambang kromong, lengkap dengan pakaian khas Betawi era 1910. Untuk seukuran pramusaji yang mendadak menjadi penari, gerakan mereka cukup lihai. Disusul rombongan pramusaji lainnya yang keluar dengan piring-piring berisi satu jenis makanan di atas kedua telapak tangannya. Kecuali dua pramusaji paling belakang yang bahu membahu menggotong pikulan berisi…… Continue reading Menikmati Kuliner Sembari Menyelami Sejarah

Resensi

Melancholic Bitch dan Rindu Yang Tuntas di Jakarta

Malam yang dingin setelah Selatan Jakarta baru saja diguyur hujan, dan di dalam mesin penyejuk masih berfungsi normal. Sayangnya Ugoran Prasad tidak bisa melakukan kebiasaannya ketika manggung. Dia terjebak pada sekat ruang beratap. Tapi bukan itu alasannya, dia hanya mau turut merasakan apa yang dirasakan kumpulan orang di depannya. “Nggak adil juga yaa. Di sini…… Continue reading Melancholic Bitch dan Rindu Yang Tuntas di Jakarta

Resensi

Anarchist from Colony: Tamatnya Cinta dan Padamnya Revolusi

Hanya karena secarik puisi, Park Yeol bisa didatangi gadis-gadis yang kagum padanya. Atau lebih tepatnya, hanyut dalam arus kalimat yang Park torehkan. Tapi tidak ada yang segila Fumiko Kaneko -gadis berdarah Jepang yang bahkan kesulitan menyebut nama Park yang bercorak Korea. Tanpa tedeng aling-aling, Fumiko melayangkan penawaran untuk menjadi pendamping hidup Park. Begitu juga sebaliknya,…… Continue reading Anarchist from Colony: Tamatnya Cinta dan Padamnya Revolusi

Figur

Grow Rich: Sebuah Katarsis dan Pengembangan Diri

Grow Rich tidak akan pernah manggung. Terlebih lagi jangan mengharapkannya tampil membawakan “Cash to Kyodo” langsung di hadapanmu. Meskipun berbagai tawaran akan hal itu berdatangan, namun dengan berat hati harus ditolak. “Waktu saya sudah tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas manggung,” terang Abdur Rohim Latada atau akrab disapa Oyi, seseorang yang berdiri dibalik nama Grow Rich.…… Continue reading Grow Rich: Sebuah Katarsis dan Pengembangan Diri

Esai

Geliat Musik Dalam Gang

PADA dekade 70-an, ada satu rumah di Jalan Pegangsaan Barat 12 Menteng, Jakarta Pusat yang nyaris tak pernah sepi pengunjung. Rumah milik keluarga Nasution itu selalu ramai oleh anak muda yang sedang dimabuk oleh musik. Hampir setiap hari mereka lewati dengan mencipta karya, berdiskusi atau sekedar nongkrong, di teras atau ruang tamu rumah tersebut. Rumah…… Continue reading Geliat Musik Dalam Gang

Esai

Munir Tidak Selalu Benar

Semasa hidupnya Munir Said Thalib berdiri tegak di atas garis keadilan dan kebenaran demi hak-hak kemanusiaan. Para petani Nipah di Madura pernah merasakan deras keringat Munir mengalir ketika membantu menagih tanggung jawab militer atas terbunuhnya tiga kawan mereka di tahun 1993, Komando Daerah Militer V Brawijaya pernah dibuat kalang kabut ketika Munir gigih mengawal kematian Marsinah…… Continue reading Munir Tidak Selalu Benar