Cerpen

Penempatan Teman

Remaja itu menangis sesegukan, seluruh benda di dalam kamarnya menjadi sasaran atas amarah yang membunca. Berantakan. Melebihi kapal pecah. Sesekali ia mengumpat dengan dibarengi suara-suara aneh tak karuan. Seseorang yang dekat dengannya namun seringkali terabaikan, mendatanginya. Mendekat dan merengkuh remaja¬†yang persis “kesetanan”, tapi ia malah memberontak. Remaja itu menjauh dan berdiam di pojok kamar. Isak…… Continue reading Penempatan Teman

Cerpen

Semua Pejuang, Berjuang Semua

Di dalam rangkaian gerbong kereta yang melaju cukup kencang, mustahil untuk bisa menahan diri tidak ikut berguncang. Mau ditahan seperti apapun, tubuh akan bergerak ke kiri-kanan-depan-belakang, menyenggol siapa saja yang berada di sekitar. Kecuali bagi mereka yang mendapatkan tempat duduk. Sungguh beruntung. Namun tubuh yang berguncang sudah menjadi hal yang biasa, jika menaiki kereta api.…… Continue reading Semua Pejuang, Berjuang Semua

Cerpen

Larut Dalam Kebahagian

Siang yang panas itu, membuat orang dewasa memilih berteduh di dalam ruangan berpendingin, di bawah pohon teduh, atau tenda-tenda pinggir jalan. Sebisa mungkin untuk terhindar dari belaian sinar matahari. Beberapa dari mereka bahkan menghujat kondisi yang menyengat itu. Tak tahan sebab badan menjadi lengket. Curik, bocah kecil berusia lima tahun justru menantang matahari. Tanpa alas…… Continue reading Larut Dalam Kebahagian

Cerpen

Pertempuran

Pecahan barang pecah belah berserakan di lantai. Kursi dan meja terbalik. Bingkai foto tak lagi menempel mantap di dinding. Kaca berukuran 15×60 yang biasa digunakan untuk mengukur paras rupawan perharinya, kini tak berbentuk, dan ternoda oleh merahnya darah. Kacung tersungkur lemas di antara keporak-porandaan tersebut. Nafasnya tertatih, matanya kadung sayup, darah mengucur lihai dari tangan…… Continue reading Pertempuran

Cerpen

Jangan Bengong Cung!

Matahari terbit dengan penuh kepercayaan bahwa ia mampu memberi kehangatan pada seisi bumi. Si Kacung bangun tidur dengan penuh kegelisahaan. Dengan langkah yang malas-malasan, si Kacung berjalan menuju pelataran rumah orang tuanya. Menghela nafas panjang berkali-kali, digelengkan kepalanya, bibirnya berdecak tak jelas. Rambutnya gondrong tak karuan, belum sempat shampoan. Bukan tak sempat, si Kacung punya…… Continue reading Jangan Bengong Cung!

Cerpen

14 Hari Menyenangkan Lyxzen

Telapak kakinya kering dan mulai mengelupas, namun ia masih terus melangkah tak peduli. Rambut panjangnya mengkilap terkena sinar matahari yang sedang gagahnya, bukan karena Pomade namun berminyak. Matanya merah dan kantongnya pun menghitam, sudah dua hari ia terjaga dari nidera berkat efek Amfetamin cair yang mengalir dalam darahnya.¬† Kedua tangannya terus gemetar seperti sedang berada…… Continue reading 14 Hari Menyenangkan Lyxzen