Cerpen

Meledaknya Kepala di Persimpangan Palmerah

Bajingan sekali gedung di depan Maybank ini, jika sore tiba selalu mengeluarkan aroma makanan. Kadang aroma soto, kadang masakan padang serupa rendang. Bikin aku lapar saja. Bikin aku kesal saja, melihat dompet hanya berisi 10ribu untuk beli bensin. Lalu lintas Palmerah Utara mungkin menjadi arus yang paling aku benci sekarang. Para pengendara mobil dan motornya…… Continue reading Meledaknya Kepala di Persimpangan Palmerah

Intisari

Chester Bennington Dalam Seragam Sekolah

Dalam perjalan menuju pusat perbelanjaan di bilang Depok, saya terperangkap di dalam mobil dengan musik yang keras, menghentak, suara gitar kasar, dan gaya bernyanyi marah-marah. Adiknya mama yang memutar itu dan menjejali kami semua yang hadir tanpa peduli suka atau tidak. Sejujurnya tidak nyaman, namun saya tidak punya otoritas apapun untuk mengganti atau bahkan menghentikan…… Continue reading Chester Bennington Dalam Seragam Sekolah

Cerpen

Doa Kretek dan Kopi

Senyum itu terus merekah dari wajah Kacung yang bulat, yang dipajang sepanjang kakinya melangkah menuju rumah. Mulutnya pun sesekali  bersenandung samar, entah lagu apa yang dilantunkan. Kedua tangannya bergerak seperti mengikuti irama, sehingga plastik hitam di tangan kanan yang berisi shampoo titipan Emak dan sebungkus kretek pun ikut bergoyang. Si Kacung nampak asik dengan dirinya…… Continue reading Doa Kretek dan Kopi

Intisari

Belajar Menjadi Dukun

SELEPAS menjadi sarjana pada pertengahan tahun lalu, saya gamang karena belum juga mendapatkan pekerjaan. Berkali-kali melempar CV, mulai dari media massa idola saya, sampai perusahaan farmasi yang butuh jasa Content Writer. Tapi namanya belum rezeki, urung dapat. Melihat keponakannya sedang kelimpungan mencari kerja, salah satu Mamang saya menyarankan untuk membuka praktik dukun. Sebuah solusi yang…… Continue reading Belajar Menjadi Dukun

Intisari

Keangkuhan

Keangkuhan seperti sebuah jalan kecil yang hanya bisa ditapaki oleh sepasang kaki. Meniti langkah demi langkah, sangat berhati-hati, karena memang licin. Sampai kita lupa bahwa jalan licin ternyata sebuah jembatan yang rapuh. Semakin berjalan, posisi jembatan semakin menurun. Sementara kita masih terselubung ketidaktauan akan itu, sibuk berhati-hati menjaga langkah agar tidak tergelincir. Tidak sadar bahwa…… Continue reading Keangkuhan

Puisi

Menjerit Berbisik

Aku ucap namamu namun masih terdengar mereka Aku pelankan lisan dan tidak cukup ternyata Aku berbisik tentangmu namun masih sayup kentara Maka aku serahkan pada nafas untuk merapal namamu Sungguh hubungan ini begitu mewah Sehingga aku takut ada yang mencurinya Sebab itu aku menjeritkan beribu kata tanpa makna Apalagi tujuannya selain untuk mengecoh seribu telinga…… Continue reading Menjerit Berbisik